MENGAPA ADA OIL LOSSES

by omrteam on September 21, 2013

I. Latar Belakang

Oil Losses dalam kegiatan operasi perminyakan merupakan hal biasa dan sering terjadi karena sifat fisis minyak, terutama minyak ringan, pengaruh handling/dipindahkan, proses pemurnian di kilang, proses custody transfer dan adanya perbedaan hasil pengukuran antara pengirim dan penerima yang semula disebut discrepancy. Descrepancy negative maupun positive mempunyai batas toleransi sehingga semua perusahaan minyak berusaha menjaga agar discrepancy tetap pada batas toleransi yang diberikan. bila discrepancy negative yang terjadi melebihi batas yang disepakati/ditentukan maka berpotensi menimbulkan kerugian bagi perusahaan penerima minyak.

Oil Losses adalah kekurangan/selisih dalam transaksi minyak yang di hitung dalam satuan sama, secara internasional dihitung dalam angka standard (60°F/15°C). Sangat berbeda dibandingkan dengan benda/barang2 lain. Minyak jika dikirim dengan angka Barrel 60 °F maka maka harus diterima dengan angka barrel 60 °F. Suhu angka kirim vs terima yang tidak sama akan menunjukan besaran yang sangat berbeda.

Oil Losses dapat dikatagorikan dalam losses fisik dan Non Fisik (semu). Oil Losses fisik terjadi karena sifat fisik minyak yang mudah menguap, kerusakan peralatan (Tanki timbun, kebocoran seal pompa, Valve/kerangan, ullage tanki yang tinggi, kerusakan PV Valve, cat tanki, dll). Oil Losses semacam ini dapat diperhitungkan dan dapat dikendalikan.

Oil Losses semu terjadi kebanyakan karena kesalahan yang terkait pada faktor manusia sebagai personal yang melaksanakan kegiatan pengukuran, mengkalkulasi dan pelaporan.

Banyak faktor yang mempengaruhi kinerja operator seperti pemahaman tentang sifat fisis minyak, ketaatan pada prosedur kerja/peralatan kerja serta ketrampilan personal dalam menggunakan alat ukur, melakukan kalkulasi menggunakan table konversi dll.

Oil Losses semu sulit diatasi namun dapat dilakukan upaya penekanan Oil losses antara lain menyesuaikan peruntukan dan kondisi alat tampung dan aliran/transportasi minyak serta melakukan pengawasan dan pelatihan bagi para operator secara berkisinambungan. Kesulitan bagi Perusahaan minyak adalah mencari instruktur yang relevance dan menentukan provider professional yang sesuai untuk melakukan training. Banyaknya Perusahaan yang menawarkan diri sebagai penyelenggara Pelatihan, tapi sering mereka melaksanakan pelatihan tanpa tanggung jawab sehingga membuat peserta pelatihan tidak serius mengikuti dan akhirnya setelah mengeluarkan biaya besar perusahaan tidak mendapatkan apa yang diharapkan.

Untuk mengatasi kerugian, akibat dari adanya Oil losses ini, pada umumnya Perusahaan minyak mengansurasikan terutama dalam pengangkutan(kapal laut dll).

Sebelum tahun 1993 Pertamina mengasuransikan Oil loss pengangkutan dengan system partial yaitu apabila terjadi oil losses pada pengangkutan minyak mentah dengan kapal laut melebihi 0,5 % Pertamina dapat melakukan klaim, namun karena oil losses selalu melebihi batas toleransi (melebihi 0.5%) maka Pihak Asuransi tidak berani mengambil resiko dan system resiko oil losses partial diganti dengan system resiko Total loss only dimana akan memberikan penggantian apabila terjadi Total Loss Only (TLO), artinya klaim hanya diberikan bila muatan 1 (satu) kapal atau 75% cargo hilang. Karena resiko losses partial tidak bisa diasursansikan maka diperlukan pengendalian oil losses dengan cara membentuk Tim Pengendalian oil Losses di Dit. Hilir pada tahun 2001, yang anggotanya terdiri dari Karyawan Pertamina Hilir sendiri. Tugas dari Tim ini adalah melaksanakan Pelatihan secara berkesinambungan dan melakukan fact finding ke lokasi-lokasi operasionil yang bermasalah. Pada tahun 2003 kerja Tim ini menghasilkan penurunanan oil losses yang cukup signifikan dari total losses pertahun sebesar 1,42 Triliyuns menjadi hanya 52 Milyards. Namun Tim pengendalian ini bubar tahun 2004 karena anggotanya pensiun dan sebagian lainnya dipindahkan ke pekerjaan lain.

II. Penyebab terjadinya Oil Losses

Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya Oil Losses sebagai berikut:

1. Sifat Minyak
Minyak dibagi dua bagian yaitu minyak ringan dan minyak berat. Minyak ringan mempunyai sifat mudah menguap sehingga sering terjadi oil losses selama handling yaitu mulai dari produksi Minyak Mentah dari lapangan produksi sektor Hulu atau KPS, Pengolahan di kilang dan transportsi dari Kilang sampai ke Depo-Depo Pemasaran dan konsumen.

2. Peralatan
Peralatan yang mempengaruhi oil losses meliputi
(i) PD Meter sebagai sarana transaksi klas 1 yang memerlukan kalibrasi secara berkala dan harus mendapatkan perijinan dari Metrologi/ Departemen Perdagangan. Peralatan ini memerlukan perawatan sehingga dapat berfungsi saat digunakan untuk transaksi
(ii) Automatic Tank Gauging (ATG) merupakan alat transaksi klas 2 yang harus di kalibrasi dan perawatan agar berfungsi saat digunakan untuk transaksi.
(iii) Tanki timbun, kondisi tanki yang berpotensi menyebabkan losses yaitu dipergunakan untuk dua atau lebih jenis crude, mengalami kebocoran pada : Tutup tanki lubang ukur dan man hole tidak rapat, PV Valve tidak berfungsi, drain valve bocor, Ullage/kosongan tanki tinggi serta konstruksi bottom tanki yang mengalami penurunan.
(iv) Perpipaan, panjang/jauhnya jarak pengirim dan penerima, kondisi naik turun dan banyaknya hubungan dengan pipa lain, lamanya jarak antara satu proses custody dengan custody transfer lainnya
(v) Tanki kapal, kondisi tanki kapal karena kebocoran pada lubang ukur dan man hole tidak rapat.
(vi) Pompa transfer, mengalami kebocoran pada oil seal.
(vii) Peralatan Ukur, kondisi meteran dan bob/pemberatnya, pasta untuk mengukur kandungan air, thermometer
Peralatan sampling laboratorium, kondisi sampling apparatus, kondisi perlatan ukur (thermometer, Hydrometer, botol/kaleng sample

3. Prosedur kerja
Prosedur kerja harus baku /standar untuk transaksi antara angka kirim dengan angka terima apalagi antara pihak pemasok/ pengirim maupun penerima/konsumen meliputi :

i. Prosedure serah terima. Sampai saat ini masih menggunakan angka kirim sebagai angka transaksi. Mekipun kondisi proses custody transfer menghendaki diberlakukan angka terima.
ii. Prosedur Sampling dan test ASTM/IP.
iii. Prosedur test laboratorium ASTM/IP
iv. Table konversi (Temperatur, Satuan volume dan satuan berat)
v. Table Tanki Darat dan tangki kapal dll.
vi. Prosedur dan SOP hendaknya selalu diupdate, disesuaikan dengan kondisi operasional yang sering berubah.

4. Sumberdaya manusia
SDM yang bekerja pada operasi arus minyak harus memahami secara lengkap pengetahuan, ketaatan, ketrampilan dan kejujuran dalam penanganan Arus Minyak.
i. Mengetahui dan Mempelajari
Pengetahuan dan pemahaman para operator tentang sifat minyak yang mudah menguap, mudah terbakar, toxis, minyak berat mudah membeku. Disamping itu perlunya memahami Product Supply Specification tentang Minyak Mentah dan produk minyak.
ii. Mentaati Prosedur Operasional
Bekerja berdasarkan Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) meliputi langkah-langkah yang harus dilakukan untuk kelancaran operasional dan keselamatan kerja dan lingkungan. Prosedur handling minyak mentah dan produk minyak yang ada harus dipahami oleh para operator. Pada prosedur handling Pertamina tahun 2007 untuk transaksi menggunakan meteran (klas 1), kemudian ATG (klas 2) dan terakhir Manual Tank Gauging (klas 3) Kenyataan sampai saat ini transaksi sebagian besar masih menggunakan Tank Gauging karena kondisi peralatan PD meter dan ATG yang masih banyak dalm kondisi rusak
iii. Ketaatan penggunaan peralatan yang tepat
Untuk menghindari kesalahan pengukuran, operator harus melaksanakan prosedur yaitu urut-urutan pelaksanaan pengukuran/berapa kali mengukur disamping peralatan harus selalu tersedia dan dalam kondisi prima. Demikian juga dalam mengkalkulasi harus menggunakan table konversi yang tepat (temperature, volume ke berat atau sebaliknya). Meskipun saat ini untuk menghindarkan kesalahan sudah menggunakan sarana electronic namun tetap diperlukan asal-usul kalkulasinya sehingga sangat diperlukan saat terjadi discrepancy memudahkan dalam penulusurannya (trasir)

iv. Terampil dalam bekerja
a. Penggunaan PD Meter
Operator harus memahami tentang pengoperasian peralatan, kapan kalibrasi dilakukan, penggantian meter factor untuk mengkalkulasi dan pelaporan dan perawatan
b. Automatic Tank Gauging (ATG)
Operator harus mengetahui bagaimana ATG berfungsi sebagai alat ukur pengganti Manual. Perlunya kalibrasi dan perawatan.
c. Pengukuran manual.
v. Jujur dalam bekerja
Mental yang baik sangat diperlukan sebagai karyawan perminyakan, kejujuran , tegar terhadap godaan untuk melakukan pencurian dan iming2 materi dari para penjahat sangat-sangat diperlukan.
a. Untuk mendapatkan angka isi tanki diperlukan kegiatan pengukuran sebanyak 11 kali meliputi: Mengukur tinggi cairan 1X, mengukur tinggi air bebas 1X; mengukur suhu minyak 3X (top , middle, bottom); mengukur suhu sample 1X; mengukur density 1X ; pengambilan sample 3X ( upper, middle, lower) dan pengukuran S&W 1X
Masing2 harus dilakukan minimal 2X pengukuran maka kegiatan ini akan berpotensi mengalami kesalahan 22 kali.
b. Perhitungan manual
Dalam kegiatan transaksi antara pihak penjual/pengirim dan pembeli/penerima menggunakan acuan standar internasional. Yang berlaku hingga saat ini adalah system Metrik, British dan Amerika. Data Density 15o C (Metric), Spcific Gravity 60 o /60 o F (British) dan API 60 o F (Amerika). Untuk memenuhi hal tersebut digunakan konversi menggunakan table konversi. Kegiatan meliputi: Membaca tank table 6X; membaca table ASTM 10X; perhitungan Koreksi 14X; interpolasi 8X dan menghitung kuantitas 4X. Kemungkinan timbulnya kesalahan pembacaan table akan berpengaruh pada kebenaran angka hasil ukur.

III. Pengendalian oil losses

Upaya pengendalian oil losses telah dilakukan oleh Perusahaan meliputi :
1. Pemasangan PD Meter dalam transaksi penerimaan dan pengiriman Minyak Mentah dan Produk. Namun perlu perhatian terhadap Operasional dan peran badan Metrologi yang menyatakan pemberlakuan peralatan. Masalah perawatan harus menjadi prioritas agar peralatan beroperasi dalam jangka panjang
2. Automatic Tank Gauging (ATG), yaitu sarana pengukuran secara automatis yang dipasang pada Tanki penimbun. Sarana ini memerlukan presisi yang mengharuskan melakukan kalibrasi dan perawatan ekstra. Namun untuk transaksi sebagian besar masih menggunakan system Manual.
3. Kalkulasi system elektronik, data ATG langsung dimasukkan dalam system sehingga diperoleh angka Volume dan dapat dikonversi ke satuan standar.
4. Dengan system Automatic banyak operator yang tidak mengetahui mekanisme system kerja sarana Automatic tersebut. Apabila terjadi discrepancy tidak mengetahui letak kesalahannya. Sehingg diperlukan pengawasan yang intensive.
5. Menyewa surveyor untuk pengawasan R3 di Dit. Pengolahan
6. Membentuk Tim Oil Loss di Dit Pengolahan dengan anggotanya dari Karyawan Pertamina Pengolahan sendiri.

IV. Kesimpulan dan saran

Oil Losses yang terjadi dikatagorikan dua bagian yaitu Oil losses fisik dan Oil Losses semu.
Oil Losses akan selalu terjadi karena sifat fisis minyak, kegagalan peralatan, peruntukan peralatan/tangki minyak mentah dan peralatan ukur yang tidak dilaksanakan sesuai prosedur atau menggunakan prosedur yang perlu diupdate serta pelaksana/operator yang kurang terlatih.
Upaya yang sudah dilakukan adalah memaksimalkan penggunaan alat ukur automatic (Metering system dan ATG), meningkatkan keterampilan SDM dalam pengukuran, perhitungan dan penanganan arus minyak, memperbaiki peralatan dan mengupdate prosedur yang ada.
Namun mengingat permasalahan oil losses ini sangat komlex, sedangkan jumlah karyawan terbatas utk bisa bekerja total untuk satu Tim Pengendalian oil losses maka diperlukan satu Tim diluar Pertamina yang berpengalaman, Indefendent, professional dan dapat menjaga kerahasiaan Perusahaan. Menggunakan Tim OMR (exs. Tim pengendalian oil losses pertamina) kami pandang sangat tepat karena disamping menghargai kemampuan bangsa sendiri, penggunaan tenaga asing selama ini disamping kontraknya terlalu mahal juga tidak menghasilkan seperti yang diharapkan. OMR TEAM adalah Tim yang solit, pengalaman, professional yang sudah diakui kemampuannya dan sangat baik bila digunakan dalam bidang Pelatihan dan Konsultasi.

Ditulis oleh : Ir. Rubani Agani
Email : Ir.rubani@gmail.com
Hp : 081224164000/087829629360/08158788151
Website : www.omrteam.com
Telp. Kantor : 0231.489734
Lokasi : Cirebon (Jawa Barat)